
METRO — Tim pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Muhammadiyah (UM) Metro menggelar program pembinaan spiritual dan sosial bagi komunitas mualaf di Desa Kaliwungu, Kecamatan Kalirejo, Kabupaten Lampung Tengah. Program bertajuk "Penguatan Karakter Profetik Mualaf Kaliwungu Melalui Pembinaan Spiritual dan Sosial" ini berlangsung sejak Mei 2025 hingga Juli 2026, menyasar komunitas Muslim mualaf di Ranting Kaliwungu, Cabang Kalirejo.
Program ini dipimpin oleh Bayu Ardiwansyah, dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam UM Metro, bersama tiga anggota tim, yaitu Hariyanto, Alfan Fahmi Alfaqih, dan Iswati, serta dua mahasiswa fasilitator lapangan, Amat Jahar dan Ahmad Fauzi Almubarok. Kegiatan ini bermitra dengan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kalirejo yang diketuai oleh Sukirman.
Ketua tim menjelaskan bahwa program ini lahir dari keprihatinan terhadap tantangan yang dihadapi para mualaf pascakonversi agama, mulai dari keterbatasan pemahaman dasar akidah, ibadah, dan akhlak, hingga tekanan psikososial berupa penolakan keluarga dan rasa terasing dari lingkungan sekitar. Selama ini, pendekatan dakwah di lingkungan tersebut dinilai masih normatif dan belum menyentuh sisi emosional para mualaf.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim pengabdi menerapkan pembinaan berbasis empat karakter profetik, yakni siddiq (kejujuran), amanah (tanggung jawab), tabligh (kemampuan menyampaikan kebaikan), dan fathanah (kebijaksanaan). Metode yang digunakan meliputi ceramah komunikatif, tanya jawab kolaboratif, musyawarah deliberatif, serta pelatihan tahsin dan tahfidz dasar bagi 23 peserta mualaf.
Kegiatan dilaksanakan secara bertahap, mulai dari observasi dan identifikasi kebutuhan pada awal Juli 2025, penyusunan kurikulum dan modul pembinaan, pelaksanaan pembinaan keislaman dasar, pelatihan tahsin-tahfidz pada Oktober 2025, hingga evaluasi akhir yang melibatkan mahasiswa dan tokoh masyarakat setempat.
Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Pemahaman praktik ibadah peserta naik dari 40 persen menjadi 85 persen, sementara internalisasi nilai-nilai profetik meningkat dari 30 persen menjadi 84 persen. Selain itu, rata-rata kehadiran peserta pada kegiatan sosial mencapai 22 orang, menandakan tumbuhnya rasa percaya diri dan berkurangnya hambatan interaksi sosial yang sebelumnya dipicu oleh rasa minder.
Salah satu capaian utama program ini adalah terbentuknya "Komunitas Al-Hijrah Kaliwungu", yang dirancang sebagai pusat pembelajaran, komunikasi, dan konseling spiritual yang bersifat permanen bagi para mualaf. Keberadaan komunitas ini diharapkan menjadi wadah dukungan sosial berkelanjutan sekaligus model pemberdayaan berbasis nilai-nilai kenabian yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Dalam pelaksanaannya, tim pengabdi juga menghadapi sejumlah kendala, di antaranya kebutuhan waktu pendampingan yang lebih intensif akibat adanya resistensi psikologis pada sebagian peserta, sulitnya menyelaraskan jadwal kegiatan dengan kesibukan warga sebagai petani, serta keterbatasan akses internet yang menghambat digitalisasi modul pembelajaran. Meski demikian, seluruh luaran wajib program, termasuk modul cetak dan pembentukan Komunitas Al-Hijrah, tetap berhasil dicapai dengan sejumlah penyesuaian metode.
Ke depan, tim pengabdi berencana melakukan formalisasi legalitas Komunitas Al-Hijrah Kaliwungu, menyusun kurikulum pembinaan lanjutan yang mengarah pada penguatan ekonomi produktif bagi mualaf, mendigitalisasi materi pembinaan agar lebih mudah diakses, serta melaksanakan monitoring berkala setiap tiga bulan bersama PCM Kalirejo. Program ini juga tengah menjalani proses publikasi ilmiah pada jurnal pengabdian masyarakat terakreditasi Sinta.
Program pengabdian ini merupakan bagian dari skema Program Pengabdian kepada Masyarakat (OPR) yang dikelola oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM Metro, dengan dukungan pendanaan dari LPPM UM Metro dan mitra program. (Aj)